~Tetap Tegar Dalam Lajang~

  "Boleh jadi kamu membenci sesuatu,padahal ia amat baik bagimu"

                                   (QS. Al-Baqarah (2) :216)  
 
          
Sebuah postingan komentar dalam pembicaraan dengan seorang teman di jejaring sosial Facebook ia menuliskan
*ILMA : Tetap Tegar dalam Lajang.
Aku tersenyum dan membalas lagi * Herry Fahrur Rizal: Tetap Segar dalam Bujang.
  
Pembicaraan-pembicaraan ringan dengan teman, saudara, atau sekeliling kita tentang  kesendirian kita, belum melangkahnya kita ke jenjang pernikahan, akan selalu muncul setiap hari dan tidak akan terlepas dari kita yang belum berkeluarga.
 
Usia yang terus melaju dengan cepat tanpa bisa kita nego untuk berhenti sejenak, untuk kami yang usianya sudah menginjak dewasa kadaluarsa,atau dalam psikologi perkembangan sudah menginjak dewasa akhir, tapi masih tetap dalam kesendirian terus akan menjadi pertanyaan yang tidak bisa di hindari.
Kebijaksanaan dalam menanggapinya harus bisa kita kelola dengan baik bahwa orang di sekeliling kita itu bukan mencemooh kita tapi bentuk kasih sayang  dan perhatiannya terhadap kita.
                                                                                   ***********
 Suatu malam ketika aku sudah tidur, SMS dari teman  di pesantren  masuk  “ Hey aku menahan tidur dari tadi melihat acara Reality show “Take Me OUT” di kirain  kamu ikutan, aku nungu eh ngga muncul-muncul, ikutan episode berapa sih?”
 
 Lagi-lagi aku harus bijaksana menanggapi sms ini, dengan keadaanku  yang ngantuk kata-katanya begitu menusuk seakan benar-benar aku sudah kepepet dan kebelet mau nikah, aku mengerti dia becanda. Kebijaksanaan sebagai seorang konselor yang aku pelajari di uji, jangan sampai bentuk kasih sayang dalam bentuk candaannya aku tanggapi dengan emosi, aku tersenyum dan membalasnya :  Aku sudah daftar tapi kata Panitia yang menyelenggarakannya mengatakan ; ”Maaf, kami tidak bisa menerima karena anda berjilbab kalau mau lolos buka dulu jilbab anda apalagi jilbab anda besar (KUNO).”
 
Candaan-candaan itu berlaku di mana saja di tempat  kerja, di Kampus, di tempat pengajian, di kampung. Dalam obrolan-obrolan sehari-hari aku selalu menanggapinya dengan senyum dan menjawab bahwa “allah belum memberi Amanah itu untukku”
 
Suatu hari aku begitu terkejut dan begitu sedih, tak pernah aku menanggapi pertanyaan hal-hal seperti ini tapi hari itu begitu membuatku menangis..      
Hari raya idul adha kemaren aku pulang kampung, Rutinitas yang aku wajibkan setiap hari ied menemani sang ibunda tercinta walaupun aku harus meninggalkan aktifitas yang padat.
 
Dalam belaian, dekapan, ciumannya kudapatkan ketenangan karena mungkin dari kecil aku di besarkan oleh ibuku setelah ayah meninggal sewaktu aku masih kecil. Dalam obrolan santai ibu bilang, “Nak kapan nikah, ibu ingin melihat kamu menikah dulu sebelum ibu pergi meninggalkanmu?   
 
Tubuhku serasa di gulung ombak. Terhempas keras membentur karang, kata-kata ibu begitu membentur karang ketegaranku dan meluluh lantakan hatiku. Lidahku kelu, badanku mati rasa. Sentuhan jemari seorang ibu di bahu pun tidak kurasakan mendadak kelima inderaku kehilangan fungsinya.
 
Tapi  sekali lagi aku harus tegar dalam lajang, aku harus mengkondisikan ibuku agar tidak khawatir dengan kesendirianku,aku menjawab: “emah siapa yang tidak mau menikah, mungkin Allah belum percaya anakmu untuk menikah sekarang agar selalu menemani hari-harimu”                                                   
  Itu kata-kata yang keluar dari mulutku padahal setelah itu aku masuk kamar menangis merasakan kepedihan ibu yang terbebani dengan kesendirian anak bungsunya ini.
  
PULANG MALU TAK PULANG RINDU”  
 
  Itulah mungkin yang aku rasakan kalau pulang kampung, hampir semua keluarga, tetangga dan teman-teman sekelas di SD yang sudah menggendong satu, dua, tiga anaknya, selalu mempertanyakan kesendirianku.
 
Di butuhkan rasa percaya diri dalam menaggapi hal seperti ini, kesantunan menghargai pada diri sendiri. Dalam sebuah kajian psikologi,  percaya diri tidak akan lahir kecuali ketika kita mengekspresikan diri pada keadaan tertentu, dimana kita berperan sebagai penghilang rasa minder atau pengusir rasa takut dalam menghadapi kegagalan hidup dan kenyataan hidup yang tidak sesuai dengan keinginan kita.
 Sebagai insan yang di beri akal, di saat-saat sangat di tuntut untuk menjadiLajang yang Tegar  atau Tegar dalam Lajang , tak dapat di pungkiri memang aku mengaku ada pergulatan batin, ada kegalauan, itu adalah proses yang harus di lalui. Dalam perjalanan hidup kita, kita pasti mendapati berbagai pertarungan, persaingan, dan pergulatan. Kita pasti punya saat-saat di mana kita harus melakukan pilihan-pilihan. Dan setiap pilihan pada dasarnya adalah pembelaan, pembelaan terhadap pilihan itu sendiri atau apa yang di hasilkan dari pilihan-pilihan itu.
 
Pilihan sebuah pembelaan, saya akui memang saya lakukan misalnya ketika teman-teman menanyakan kapan nikah jangan terus mencari  ilmu dan mengejar karir. Aku selalu menjawab, ya itu pilihan aku, ketika rutinitas rumah tangga belum  bisa datang kepadaku aku mengisinya dengan rutinitas yang bisa mendapatkan ilmu, mendatangkan uang dan meningkatkan ibadah, terdengar klise memang padahal jawaban yang realistis adalah aku sedang menunggu jodoh terindah dari allah yang belum datang.
 
                                                          **********
 Detik-detik Penting, untuk berbaik Sangka Kepada Allah.   
 
  Di saat seperti inilah kita di tuntut berbaik sangka pada allah, dengan tidak mengenal waktu, tempat dan peristiwa. Kapanpun, di manapun, peristiwa apapun, kewajibkan kita sebagai orang yang beriman untuk bersikap husnu dzan atau berbaik sangka pada allah bahwa jodoh belum datang kepada kita karena hal ini yang terbaik buat kita saat ini.
 
 Pada fase kehidupan saat kita mengalami ketidak mengertian, kebingungan, atau juga situasi tidak bisa menerima sebuah kondisi yang jauh berbeda dengan harapan sebelumnya. Ketika kita telah berupaya secara baik dan benar untuk mencapai keinginan baik, tapi kita mengalami keadaan yang sama sekali tidak sesuai dengan harapan. Ingin mendapatkan jodoh dengan cara berikhtiar serius, juga tak lupa memperbanyak do’a dan beribadah, tapi usaha yang di lakukan nihil hasilnya.kondisi yang ada sepertinya selalu menghadapi tembok besar yang tak memungkinkan mendpatkan jodoh dalam waktu dekat. Menata keinginan dan berusaha memperoleh  keluarga dan rumah tangga sakinah, namun kenyataan berbicara lain. Tak kunjung mendapat karunia yang di inginkan.
 
 Ini adalah fase kehidupan yang mengundang banyak perasaan yang menekan, hingga pikiran-pikiran ‘nyeleneh’ yang mempunyai makna memprotes kehendak dan iradah Allah swt kepada diri. Saat inilah kita harus waspada dan banyak melakukan mengontrol perasaan yang sensitif dan pikiran yang negatif.
  
Perhatikanlah sabda Rasulullah saw, “ Menakjubkan sekali urusan orang mukmin itu . semua peristiwa baik baginya. Dan sikap seperti itu hanyalah dilakukan oleh seorang mukmin. Jika ia mengalami kondisi baik dia bersyukur. Itu baik bagi dirinya. Dan jika mengalami kondisi sulit dia bersabar. Itupun baik bagi dirinya. (HR. Muslim)
  
Kembali kepada keimanan, kembali pada kesyukuran, kembali pada kesabaran. Inilah tiga  inti pesan Rasulullah saw dalam hadits itu.
 
§                                  Kembali kepada keimanan artinya kita memang harus meyakinkan diri terhadap ruang-ruang keimanan yang harusnya ada dalam diri. bahwa allah sebagai penentu dan pengatur jodoh dan semua alur kehidupan di dunia dan seisinya.
 §                                 Kembali kepada kesyukuran artinya kita diajak untuk bisa meraba ragam karunia dan nikmat allah yang ada.  Tidak terpaku kesulitan dan kedukaan. Memindahkan perhatian dari hal kepiluan dan kepedihan menjadi hal yang bisa membangkitkan rasa optimis.
 §                                  Kembali kepada kesabaran artinya agar kita lebih kuat memikul kesulitan yang dirasakan. Karena memang tidak ada lagi senjata yang bisa menahan beban kecuali sabar.
 
Teman yang masih lajang, kita masih di beri kesempatan sebelum rutinitas dalam sebuah keluarga sakinah. Kita masih di beri kesempatan sambil menunggu datang karunia terindah itu untuk mengisinya dengan prestasi dunia dan akhirat.
Mencari ilmu, Mendapatkan Uang dan Meningkatkan Ibadah ,,,,,Amien..Ya Rabb
 
 
 
 
                                                  http://mp3tausiyah.blogspot.com/search/label/Arifin%20Ilham


~Tetap Tegar Dalam Lajang~

Cinta Dan Jodoh

Pertengahan tahun 2009 lalu saya bertemu dengan Kaka El Faqeer, seorang sahabat karib semasa kuliah di Bandung dulu. Rasa senang seolah bercampur aduk menjadi satu, senang karena bertemu sahabat lama dan senang karena sedang jatuh cinta kepada seorang gadis keturunan Arab saat itu.

 

Saya ceritakan hal ini ke Kaka, dan ditanggapinya dengan sangat berkesan hingga selalu terngiang dalam benak saya,

 

“Dari dulu kamu tu pikirannya cewek terus, hahaha…”, kelakarnya

 

Kemudian dia melanjutkan,

 

“Kenapa kamu bingung memikirkan cinta dan jodoh? Kenapa kamu mesti bingung memikirkan sesuatu yang sudah pasti Allah beri dan janjikan? Carilah apa yang tidak Allah janjikan kepadamu dan jangan cari apa yang sudah pasti Allah beri dan janjikan.”

 

“Maksudnya?”, tanya saya penasaran.

 

“Bukankah setiap manusia yang terlahir kedunia ini sudah ditentukan jodoh, rezeki dan mautnya? Dan itu sudah dipastikan oleh Allah untuk manusia, jadi kenapa bingung? Sedangkan surga dan neraka adalah sesuatu yang tidak pernah Allah janjikan, karena itu semua tergantung pada amalan kita. Maka carilah rahmat Allah agar Dia berkenan berikan surgaNya untukmu, fokuslah untuk mencari rahmat Allah tersebut, karena kalau kamu hanya fokus memikirkan jodoh, dikhawatirkan itu akan membuatmu terlena. Jangan khawatir, jodoh pasti akan Allah hadirkan bila saatnya tiba”, jelasnya.

 

Terdiam saya beberapa saat, seraya memikirkan ada benarnya juga apa yang disampaikan oleh Kaka, bahwa jodoh pasti akan Allah beri untuk manusia, hamba-hambaNya.

 

Di kesempatan yang lain ia juga sempat menambahkan bahwa “tak akan lari jodoh dikejar”, sehingga praktis semakin terngianglah saya akan hal ini. Ya, jodoh adalah amanah, ia akan hadir bila kita dianggap telah sanggup mengemban amanah itu oleh Allah, dan dia tidak akan hadir bila kita dianggap tidak sanggup dalam mengemban amanah yang Allah beri, yaitu jodoh.

 

Banyak orang khawatir bila jodoh tak kunjung tiba, terutama kaum wanita. Bila saatnya tepat jodoh pasti akan hadir walaupun kita tidak menginginkannya untuk hadir, dan jika saatnya tidak tepat maka jodoh tidak akan hadir walau sehebat apapun kita menginginkan dan mengusahakannya untuk hadir. Allah pasti punya rencana terbaik untuk kita. Dia tahu kapan saat yang tepat jodoh akan dihadirkanNya dan Dia juga tahu siapa jodoh yang terbaik untuk hamba-hambaNya. Bila kita memaksakannya sekarang untuk hadir, misal melalui jalan yang tidak diridhoiNya, maka kemudhorotanlah yang pasti akan muncul sebagai akibat sesudahnya. Entah rumah tangga yang penuh perselisihan, pertengkaran atau bahkan perselingkuhan alias rumah tangga yang tak barokah, na’udzubillaahimindzalik.

 

Tapi bukan berarti kita pasif, diam menunggu  akan hadirnya seorang jodoh tanpa sebuah ikhtiar / usaha. Jodoh harus tetap diusahakan dan cara mengusahakannya juga harus dengan cara yang baik (ma’ruf). Bukankah Rasul telah memberikan arahan pada kita, bahwa carilah jodoh karena empat hal, yaitu agama, paras, nasab dan hartanya? Dan jika ingin selamat maka pilihlah karena agamanya. Tapi alangkah indahnya jika keempat hal tersebut terpenuhi semuanya, sempurna rasanya hidup ini.

 

Dari sebuah novel islami yang pernah saya baca, dicontohkan bagaimana seorang laki-laki yang berniat mencari pasangan hidupnya setelah menyelesaikan studinya di Mesir yaitu dengan berusaha minta dikenalkan (ta’aruf) dengan kerabat-kerabat dekatnya akan seorang wanita (akhwat) yang sekiranya memang layak untuk dijadikan istri olehnya, tapi tanpa melalui suatu proses yang batil, pacaran misalnya. Berbagai usaha atau ta’aruf dia lakukan tapi akhirnya dia berjodoh dengan seorang akhwat yang proses ta’aruf dan pernikahannya sangat singkat, lalu jadilah mereka suami istri dengan tempo secepat itu. Maha Suci Allah jika Ia berkehendak maka jadilah apa yang dikehendakiNya, termasuk jodoh. Memang kalau sudah jodoh, pasti tak akan lari kemana.

 

Copas from : http://www.facebook.com/notes/setetes-peluh-perjuangan/cinta-dan-jodoh-1/176001192416284

Suami Berhati Malaikat: Mencintai Tanpa Syarat

 Eko Pratomo Suyatno, siapa yang tidak kenal lelaki bersahaja ini? Namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan. Dialah salah seorang dibalik kemajuan industri reksadana di Indonesia dan juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di negeri ini.

 

 

Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan bahwa pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat. Tapi dalam note ini saya tidak akan menyoroti kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Namun ada sisi kesehariannya yang luar biasa!!!!

 

Usianya sudah tidak muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak.

 

Dari isinilah awal cobaan itu menerpa, saat istrinya melahirkan anak yang ke empat. tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

 

 

Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno sendirian memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur. Dia letakkan istrinya di depan TV agar istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya sudah tidak dapat bicara tapi selalu terlihat senyum. Untunglah tempat berkantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari kediamannya, sehingga siang hari dapat pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.

 

Sorenya adalah jadwal memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa menanggapi lewat tatapan matanya, namun begitu bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan. Bahkan terkadang diselingi dengan menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan penuh kesabaran dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka. Sekarang anak- anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah.

 

Pada suatu hari…saat seluruh anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya-- karena setelah anak-anak mereka menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing- - Pak Suyatno memutuskan dirinyalah yang merawat ibu mereka karena yang dia inginkan hanya satu ’agar semua anaknya dapat berhasil’.

 

Dengan kalimat yang cukup hati-hati, anak yang sulung berkata:

 

“Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu." Sambil air mata si sulung berlinang.

 

"Sudah keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini, kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”. Si Sulung melanjutkan permohonannya.

 

”Anak-anakku. ..Jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di sampingku itu sudah lebih dari cukup,dia telah melahirkan kalian….*sejenak kerongkongannya tersekat*… kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat dihargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini ?? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya seperti sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit." Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya

 

Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno, merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu.

 

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa-apa....disaat itulah meledak tangisnya dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.

 

Disitulah Pak Suyatno bercerita : “Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 anak yang lucu-lucu..Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit...” Sambil menangis

 

" Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya hanya dapat bercerita kepada Allah di atas sajadah..dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya..."BAHWA CINTA SAYA KEPADA ISTRI, SAYA SERAHKAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH".

 

(Semoga Allah memberkahi para suami yang sholeh dan istri yang sholehah)

 Copas from : http://www.facebook.com/note.php?note_id=243182901847&id=1219824923

Dari Ibumu, Untuk Engkau Wahai Muslimah Yang Akan Menikah, Simaklah….

 Wahai putriku, engkau adalah perempuan yang paling pandai memakai wewangian. Oleh karena itu perliharalah dua perkataan : Nikahlah dan pakailah wewangian dengan menggunakan air hingga wangimu seperti bau yang ditimpa air hujan.

 

 

“Wahai anak perempuanku! Bahwasanya jika wasiat ditinggalkan karena suatu keistimewaan atau keturunan maka aku menjauh darimu. Akan tetapi wasiat merupakan pengingat bagi orang yang mulia dan bekal bagi orang yang berakal. Wahai anak perempuanku! Jika seorang perempuan merasa cukup terhadap suami lantaran kekayaan kedua orang tuanya dan hajat kedua orang tua kepadanya, maka aku adalah orang yang paling merasa cukup dari semua itu. Akan tetapi perempuan diciptakan untuk laki-laki dan laki-lakai diciptakan untuk perempuan.

Wahai anakku, inilah kenyataan yang engkau hadapi dan inilah masa depanmu. Inilah keluargamu, di mana engkau dan suamimu bekerja sama dalam mengarungi bahtera rumah tannga. Adapun bapakmu, itu dulu. Sesungguhnya aku tidak memintamu untuk melupakan bapakmu, ibumu dan sanak saudaramu, karena mereka tidak akan melupakanmu selamanya wahai buah hatiku. Bagaimana mungkin seorang ibu melupakan buah hatinya. Akan tetapi aku memintamu untuk mencintai suamimu dan hidup bersamanya, dan engkau bahagia dengan kehidupan bersamanya.

 

Wahai putriku yang belia, ketahuilah bahwasannya keagungan seorang suami yang paling besar adalah kemuliaan yang engkau persembahkan untuknya, dan kedamaian yang paling besar baginya adalah perlakuanmu yang paling baik. Ketahuilah, bahwasanya engkau tidak merasakan hal tersebut, sehingga engkau mempengaruhi keinginannya terhadap keinginanmu dan keridhaannya terhadap keridhaanmu (baik terhadap hal yang engkau sukai atau yang engkau benci). Jauhilah menampakkan kebahagiaan dihadapannya jika ia sedang risau, atau menampakkan kesedihan tatkala ia sedang gembira.

Sungguh hiasilah hari-hari di rumahmu kelak dengan sifat qana’ah dan mu’asyarah, melalui perhatian yang baik dan ta’at pada perintah suamimu. Sesungguhnya pada qana’ah terdapat kebahagiaan qalbu, dan pada ketaatan terdapat keridhaan Allah ta’ala. Buatlah janji di hadapannya dan beritrospeksilah di hadapannya juga. Jangan sampai ia memandang jelek dirimu, dan jangan sampai ia mencium darimu kecuali wewangian.

 

“Wahai anakku, jangan kamu lupa dengan kebersihan badanmu, karena kebersihan badanmu menambah kecintaan suamimu padamu. Kebersihan rumahmu dapat melapangkan dadamu, memperbaiki hubunganmu, menyinari wajahmu sehingga menjadikanmu selalu tampak cantik, dicintai, serta dimuliakan di sisi suamimu. Selain itu disenangi keluargamu, kerabatmu, para tamu, dan setiap orang yang melihat kebersihan badan dan rumah akan merasakan ketentraman dan kesenangan jiwa”

 

Wahai, putriku yang sebentar lagi akan bersuami, perhatikanlah waktu makan suamimu dan tenangkanlah ia tatkala tidur, karena panas kelaparan sangat menjengkelkan dan gangguan tidur pun menjengkelkan. Jagalah harta dan keluarganya. Dikarenakan kekuasaan dalam harta artinya pengaturan keuangan yang bagus, dan kekuasaan dalam keluarga artinya perlakuan yang baik. Jangan engkau sebarluaskan rahasianya, serta jangan engkau langgar peraturannya. Jika engkau menyebarluaskan rahasianya berarti engkau tidak menjaga kehormatannya. Jika engkau melanggar perintahnya berarti engkau merobek dadanya. (Ahkamu An-Nisa karangan Ibnu Al-Jauzi)

 

Ingatlah selalu wahai putriku manis, bahwasanya laki-laki memiliki kata-kata manis nan indah yang lebih sedikit dari pada kamu, yang dapat membahagiakannya. Janganlah engkau membuatnya berperasaan bahwa pernikahan ini menyebabkanmu merasa jauh dari keluarga dan sanak kerabatmu. Sesungguhnya perasaan ini sama dengan yang ia rasakan, karena dia juga meninggalkan rumah orang tuanya, dan keluarga karena dirimu. Tetapi antara dia dan kamu ada kenyataan yang berbeda, perempuan selalu rindu kepada keluarga dan tempat ia dilahirkan, berkembang, besar dan menimba ilmu pengetahuan. Akan tetapi sebagai seorang isteri ia harus kembali kepada kehidupan baru. Dia harus membangun hidupnya bersama laki-laki yang menjadi suami dan perlindungannya, serta bapak dari anak-anaknya. Inilah duniamu yang baru. Tempat di mana, engkau menjadi bagian tak terpisahkan darinya.

 

Dan ketahuilah gadis ku yang cantik,

. Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib mewasiatkan anak perempuannya:

“Jauhilah olehmu perasaan cemburu, karena rasa cemburu adalah kunci jatuhnya thalak. Juga jauhilah olehmu banyak mengeluh, karena keluh kesah menimbulkan kemarahan, dan hendaklah kamu memakai celak mata karena itu adalah perhiasan yang paling indah dan wewangian yang paling harum”.

 

Dan ketahuilah pula, wahai putriku. Dengan ini, engkau telah keluar dari sarang yang engkau tempati menuju hamparan yang tidak engkau ketahui. Menuju seorang ikhwan yang engkau belum merasa rukun dengannya. Oleh karena itu jadilah engkau sebagai bumi baginya, maka dia akan menjadi langit untukmu. Jadilah engkau hamparan baginya, niscaya ia akan menjadi tiang untukmu. Jadilah engkau hamba sahaya baginya, maka niscaya ia akan menjadi hamba untukmu. Janganlah engkau meremehkannya, karena niscaya dia akan membencimu dan janganlah menjauh darinya karena dia akan melupakanmu. Jika dia mendekat kepadamu maka dekatkanlah dirimu, dan jika dia menjauhimu maka menjauhlah darinya. Jagalah hidungnya, pendengarannya, dan matanya. Janganlah ia mencium sesuatu darimu kecuali wewangian dan janganlah ia melihatmu kecuali engkau dalam keadaan cantik.

 

Ketahuilah wahai anakku. Ibu menulis bait ini dengan uraian air mata, bercampur senyum bahagia. Sudah saatnya engkau menerima untuk menempuh hidup baru. Kehidupan di mana ibu, bapak, atau salah seorang dari saudara kandungmu tidak mempunyai tempat di dalamnya. Dalam kehidupan tersebut engkau menjadi teman bagi suamimu, yang tidak menginginkan seorang pun ikut campur dalam urusanmu.

Jadilah istri untuknya wahai anakku, dan jadilah ibu untuk anak-anaknya. Kemudian jadikanlah ia merasakan bahwa engkau adalah segala-galanya dalam kehidupannya, dan segala-galanya di dunia.

 

copas from : http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/dari-ibumu-untuk-engkau-wahai-muslimah-yang-akan-menikah-simaklah-allh-/478629341041