~Tetap Tegar Dalam Lajang~
02 Desember 2010"Boleh jadi kamu membenci sesuatu,padahal ia amat baik bagimu"
(QS. Al-Baqarah (2) :216)
Sebuah postingan komentar dalam pembicaraan dengan seorang teman di jejaring sosial Facebook ia menuliskan
*ILMA : Tetap Tegar dalam Lajang.
Aku tersenyum dan membalas lagi * Herry Fahrur Rizal: Tetap Segar dalam Bujang.
Pembicaraan-pembicaraan ringan dengan teman, saudara, atau sekeliling kita tentang kesendirian kita, belum melangkahnya kita ke jenjang pernikahan, akan selalu muncul setiap hari dan tidak akan terlepas dari kita yang belum berkeluarga.
Usia yang terus melaju dengan cepat tanpa bisa kita nego untuk berhenti sejenak, untuk kami yang usianya sudah menginjak dewasa kadaluarsa,atau dalam psikologi perkembangan sudah menginjak dewasa akhir, tapi masih tetap dalam kesendirian terus akan menjadi pertanyaan yang tidak bisa di hindari.
Kebijaksanaan dalam menanggapinya harus bisa kita kelola dengan baik bahwa orang di sekeliling kita itu bukan mencemooh kita tapi bentuk kasih sayang dan perhatiannya terhadap kita.
***********
Suatu malam ketika aku sudah tidur, SMS dari teman di pesantren masuk “ Hey aku menahan tidur dari tadi melihat acara Reality show “Take Me OUT” di kirain kamu ikutan, aku nungu eh ngga muncul-muncul, ikutan episode berapa sih?”
Lagi-lagi aku harus bijaksana menanggapi sms ini, dengan keadaanku yang ngantuk kata-katanya begitu menusuk seakan benar-benar aku sudah kepepet dan kebelet mau nikah, aku mengerti dia becanda. Kebijaksanaan sebagai seorang konselor yang aku pelajari di uji, jangan sampai bentuk kasih sayang dalam bentuk candaannya aku tanggapi dengan emosi, aku tersenyum dan membalasnya : Aku sudah daftar tapi kata Panitia yang menyelenggarakannya mengatakan ; ”Maaf, kami tidak bisa menerima karena anda berjilbab kalau mau lolos buka dulu jilbab anda apalagi jilbab anda besar (KUNO).”
Candaan-candaan itu berlaku di mana saja di tempat kerja, di Kampus, di tempat pengajian, di kampung. Dalam obrolan-obrolan sehari-hari aku selalu menanggapinya dengan senyum dan menjawab bahwa “allah belum memberi Amanah itu untukku”
Suatu hari aku begitu terkejut dan begitu sedih, tak pernah aku menanggapi pertanyaan hal-hal seperti ini tapi hari itu begitu membuatku menangis..
Hari raya idul adha kemaren aku pulang kampung, Rutinitas yang aku wajibkan setiap hari ied menemani sang ibunda tercinta walaupun aku harus meninggalkan aktifitas yang padat.
Dalam belaian, dekapan, ciumannya kudapatkan ketenangan karena mungkin dari kecil aku di besarkan oleh ibuku setelah ayah meninggal sewaktu aku masih kecil. Dalam obrolan santai ibu bilang, “Nak kapan nikah, ibu ingin melihat kamu menikah dulu sebelum ibu pergi meninggalkanmu?
Tubuhku serasa di gulung ombak. Terhempas keras membentur karang, kata-kata ibu begitu membentur karang ketegaranku dan meluluh lantakan hatiku. Lidahku kelu, badanku mati rasa. Sentuhan jemari seorang ibu di bahu pun tidak kurasakan mendadak kelima inderaku kehilangan fungsinya.
Tapi sekali lagi aku harus tegar dalam lajang, aku harus mengkondisikan ibuku agar tidak khawatir dengan kesendirianku,aku menjawab: “emah siapa yang tidak mau menikah, mungkin Allah belum percaya anakmu untuk menikah sekarang agar selalu menemani hari-harimu”
Itu kata-kata yang keluar dari mulutku padahal setelah itu aku masuk kamar menangis merasakan kepedihan ibu yang terbebani dengan kesendirian anak bungsunya ini.
“PULANG MALU TAK PULANG RINDU”
Itulah mungkin yang aku rasakan kalau pulang kampung, hampir semua keluarga, tetangga dan teman-teman sekelas di SD yang sudah menggendong satu, dua, tiga anaknya, selalu mempertanyakan kesendirianku.
Di butuhkan rasa percaya diri dalam menaggapi hal seperti ini, kesantunan menghargai pada diri sendiri. Dalam sebuah kajian psikologi, percaya diri tidak akan lahir kecuali ketika kita mengekspresikan diri pada keadaan tertentu, dimana kita berperan sebagai penghilang rasa minder atau pengusir rasa takut dalam menghadapi kegagalan hidup dan kenyataan hidup yang tidak sesuai dengan keinginan kita.
Sebagai insan yang di beri akal, di saat-saat sangat di tuntut untuk menjadiLajang yang Tegar atau Tegar dalam Lajang , tak dapat di pungkiri memang aku mengaku ada pergulatan batin, ada kegalauan, itu adalah proses yang harus di lalui. Dalam perjalanan hidup kita, kita pasti mendapati berbagai pertarungan, persaingan, dan pergulatan. Kita pasti punya saat-saat di mana kita harus melakukan pilihan-pilihan. Dan setiap pilihan pada dasarnya adalah pembelaan, pembelaan terhadap pilihan itu sendiri atau apa yang di hasilkan dari pilihan-pilihan itu.
Pilihan sebuah pembelaan, saya akui memang saya lakukan misalnya ketika teman-teman menanyakan kapan nikah jangan terus mencari ilmu dan mengejar karir. Aku selalu menjawab, ya itu pilihan aku, ketika rutinitas rumah tangga belum bisa datang kepadaku aku mengisinya dengan rutinitas yang bisa mendapatkan ilmu, mendatangkan uang dan meningkatkan ibadah, terdengar klise memang padahal jawaban yang realistis adalah aku sedang menunggu jodoh terindah dari allah yang belum datang.
**********
Detik-detik Penting, untuk berbaik Sangka Kepada Allah.
Di saat seperti inilah kita di tuntut berbaik sangka pada allah, dengan tidak mengenal waktu, tempat dan peristiwa. Kapanpun, di manapun, peristiwa apapun, kewajibkan kita sebagai orang yang beriman untuk bersikap husnu dzan atau berbaik sangka pada allah bahwa jodoh belum datang kepada kita karena hal ini yang terbaik buat kita saat ini.
Pada fase kehidupan saat kita mengalami ketidak mengertian, kebingungan, atau juga situasi tidak bisa menerima sebuah kondisi yang jauh berbeda dengan harapan sebelumnya. Ketika kita telah berupaya secara baik dan benar untuk mencapai keinginan baik, tapi kita mengalami keadaan yang sama sekali tidak sesuai dengan harapan. Ingin mendapatkan jodoh dengan cara berikhtiar serius, juga tak lupa memperbanyak do’a dan beribadah, tapi usaha yang di lakukan nihil hasilnya.kondisi yang ada sepertinya selalu menghadapi tembok besar yang tak memungkinkan mendpatkan jodoh dalam waktu dekat. Menata keinginan dan berusaha memperoleh keluarga dan rumah tangga sakinah, namun kenyataan berbicara lain. Tak kunjung mendapat karunia yang di inginkan.
Ini adalah fase kehidupan yang mengundang banyak perasaan yang menekan, hingga pikiran-pikiran ‘nyeleneh’ yang mempunyai makna memprotes kehendak dan iradah Allah swt kepada diri. Saat inilah kita harus waspada dan banyak melakukan mengontrol perasaan yang sensitif dan pikiran yang negatif.
Perhatikanlah sabda Rasulullah saw, “ Menakjubkan sekali urusan orang mukmin itu . semua peristiwa baik baginya. Dan sikap seperti itu hanyalah dilakukan oleh seorang mukmin. Jika ia mengalami kondisi baik dia bersyukur. Itu baik bagi dirinya. Dan jika mengalami kondisi sulit dia bersabar. Itupun baik bagi dirinya. (HR. Muslim)
Kembali kepada keimanan, kembali pada kesyukuran, kembali pada kesabaran. Inilah tiga inti pesan Rasulullah saw dalam hadits itu.
§ Kembali kepada keimanan artinya kita memang harus meyakinkan diri terhadap ruang-ruang keimanan yang harusnya ada dalam diri. bahwa allah sebagai penentu dan pengatur jodoh dan semua alur kehidupan di dunia dan seisinya.
§ Kembali kepada kesyukuran artinya kita diajak untuk bisa meraba ragam karunia dan nikmat allah yang ada. Tidak terpaku kesulitan dan kedukaan. Memindahkan perhatian dari hal kepiluan dan kepedihan menjadi hal yang bisa membangkitkan rasa optimis.
§ Kembali kepada kesabaran artinya agar kita lebih kuat memikul kesulitan yang dirasakan. Karena memang tidak ada lagi senjata yang bisa menahan beban kecuali sabar.
Teman yang masih lajang, kita masih di beri kesempatan sebelum rutinitas dalam sebuah keluarga sakinah. Kita masih di beri kesempatan sambil menunggu datang karunia terindah itu untuk mengisinya dengan prestasi dunia dan akhirat.
Mencari ilmu, Mendapatkan Uang dan Meningkatkan Ibadah ,,,,,Amien..Ya Rabb
